Minggu, 19 Oktober 2014

Reflections from the Heart #1





Bismillah

Semoga Allah ta’ala senantiasa memuliakan ahlul ‘ilmi karena ilmu yang ada pada mereka, dan semoga Allah ta’ala ampuni siapapun orannya yang berbicara perihal agama tanpa dibersamai dengan ilmu. Selanjutnya, kita berharap semoga Allah ta’ala perkenankan kita untuk senantiasa istiqamah di jalan pencarian ilmu, hingga dengan ilmu itu kita bisa menjadi semakin menyadari tujuan penciptaan kita di dunia ini. Tak hanya sekedar sadar, bahkan lebih jauh dari itu kita mau dan berupaya dengan penuh kesungguhan untuk menjalankan peran terbaik kita sebagai hamba yang telah dihadirkan-Nya di dunia ini.

Al-Islaamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi. Islam itu tinggi dan tidak ada yang mampu menyaingi ketinggiannya.  Begitulah pernyataan berharaga dari guru saya (hafizhahullaahu ta’ala –semoga Allah ta’ala senantiasa menjaga beliau) yang masih saya ingat sampai sekarang. 

Penganut Islam sejati tentu sudah tidak ragu lagi dengan konsep tersebut. Jika masih juga ada keraguan, itu artinya yang bersangkutan perlu meninjau ulang kembali keimanan di dalam dirinya. 

Terlepas dari itu semua, realitas yang ada hari ini ternyata malah menunjukan hal yang beresebrangan dengan konsep tersebut. Islam terpojok dan seolah tak punya nilai ketinggian sama sekali. Yang salah tentu bukanlah Islamnya, melainkan para penganuntnya yang tidak mampu dan tidak berkeinginan kuat menjadikan Islam sebagai sebenar-benar jalan hidup. Islam dan muslim masih berada di dua bukit berbeda yang terpisah oleh lautan yang luas membentang. 

Maka, menjadi tepatlah jika sesekali kita meluangkan waktu untuk merenungkan kembali hakikat di balik kebenaran mutlak: Islam itu agama yang sempurna.

Semoga hikmahnya bisa kembali kita dapatkan, karena ianya adalah harta berharga kaum muslimin yang telah lama hilang. Mari kita cari dan dapatkan kembali harta berharga tersebut.

---

Setidaknya, ada tiga hal yang patut kita renungkan kembali berkaitan dengan cara kita melihat setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita hari ini. Mari kita renungkan kembali bagaimana sebetulnya Islam menuntun kita dalam menghadapi itu semua.

Hal pertama yang patut kita renungkan adalah; lihatlah kembali diri kita.

Tanyakan kepada diri kita, kenapa saya terlahir di jaman dunia yang seperti sekarang ini? Apa maksud Allah menakdirkan saya terlahir di jaman dunia yang seperti sekarang ini? 

Lihatlah diri kita, dengan mengajukan pertanyaan tersebut.

Guna mendapatkan jawabannya; mari kita terawangakan pikiran kita pada awal mula jungjungan kita (rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa salam) hendak menjalankan perannya sebagai utusan Allah ta’ala. Bukankah Islam memang mengajarkan kita untuk berbuat demikian? Menjadikan setiap peristiwa yang dialami oleh rasuulullaah sebagai sarana pembelajaran kita saat ini? Ada spirit hikmah berharga yang bisa dapatkan kembali dalam tiap perjalanan hidup beliau.

Memasuki usia beliau yang ke 40 tahun, kegusaran beliau akan kondisi penduduk Makkah di jaman itu sudah sampai pada titik puncaknya. Kegusaran inilah yang kemudian menjadikan beliau sering menyepi berdiam diri di sebuah gua bernama gua Hira. 

Beliau gusar melihat kenyaataan hidup yang beliau hadapi saat itu. Beliau ingin merubah kondisi tersebut, tapi bingung dan tak tau bagaimana cara merubahnya. Maka, menyepi di gua Hira adalah pilihan yang beliau ambil kala itu. Saat kondisi seperti itu, datanglah Jibril ‘alaihi salam dengan membawa wahyu dari Allah. Jibril menyampaikan wahyu pertama dari Allah itu dengan berkata, “Iqra!” (terj: bacalah!). Jungjungan kita (shallallaahu ‘alaihi wa salam) bingung dengan perintah Jibril tersebut. Beliau tak bisa membaca. Sebagaimana kita tau, beliau adalah seorang ummi; tak bisa membaca dan juga menulis. “Iqra!”, “Aku tidak bisa membaca.”, “Iqra!”, “Aku tidak bisa membaca.”, “Iqra!” sampai tiga kali Jibril menyuruh rasuulullaah untuk membaca.

Gusar mendapati kelakuan orang-orang Makkah saat itu, beliau pun menyendiri di gua Hira. Saat sedang menyendiri dengan ditemani perasaan gusar, datanglah Jibril dengan perintah “Iqra!”-nya. Kegusaran beliau semakin menjadi-jadi karena perintah Jibril tersebut. “Bagaimana aku membaca, sementara aku seorang yang buta huruf?” Jika dibahasakan ke dalam bahasa kita, mungkin begitulah kurang lebih jeritan hati rasulullaah tatkala beliau mendapati perintah “Iqra!” dari Jibril.  

Tak mampu; inilah hal pertama yang rasuulullaah rasakan tatkala wahyu pertama berupa kalimat perintah itu sampai kepada beliau. Kelemahan diri; inilah hal pertama yang beliau tunjukkan tatkala perintah tersebut sampai pada beliau. 

Setelah perintah “Iqra!” yang ketiga kalinya disampaikan Jibril kepada rasuulullaah, Jibril menyusul pertintah “Iqra!” tersebut dengan kalimat, “bismikalladzii khalaq.” (terj: dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan). 

---

Mari kita cerna hikmah di balik kisah di atas dengan sebaik-baik mencerna; pelajaran berharga apakah yang bisa kita dapatkan dari runutan dialog antara Jibril ‘alaihi salam dan rasuulullaah shalallaahu ‘alaihi wa salam di atas?

Rasuulullah menyambut perintah Allah yang disampaikan melalui Jibril itu dengan respon ketidakmampuan untuk melaksanakan perintah tersebut. Kenapa tidak mampu? Karena yang beliau lihat pertama kali dari diri beliau adalah kelemahannya (baca: tak bisa membaca dalam arti yang sebenarnya), bukan kekuatan dan potensi lain yang dimilikinya. Di sinilah Allah ta’ala (melalui Jibril) hendak mengajarkan kepada beliau (dan juga kepada kita) terkait cara merubah persepsi terhadap suatu pekerjaan yang nampak mustahil untuk dikerjakan.

Suatu pekerjaan yang seolah mustahil untuk dikerjakan itu akan benar-benar menjadi hal mustahil jika kita hadapi dengan kekurangan yang kita miliki. Tapi, kita masih punya harapan besar untuk dapat mengerjakannya jika persepsi kita terhadap pekerjaan itu kita rubah. Pikirkanlah kelebihan yang kita miliki untuk mengerjakan urusan tersebut, jangan malah berfokus pada kelemahan yang kita miliki. Bacalah! Dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Kerjakanlah! Setrakan tuhanmu dalam pekerjaanmu! Dengan begitu, kekuatan kita akan semakin berlipat, insya Allah.

Lihatlah diri kita! Kita terlahir dan hidup di saat dunia sedang memiliki permasalahan-permasalahan sebagaimana kita rasakan hari ini. Kita hidup di jaman di mana Islam dan para penganutnya kembali terpisah pada dua bukit yang berbeda. Islam berada di satu bukit, sementara muslimnya berada di bukit yang lain. Maka, berpikir dan bekerjalah dengan keras (dengan cara berfokus pada kelebihan yang kita miliki) agar Islam dan muslim itu bisa kembali menyatu pada satu bukit yang sama. 

Sadar akan problem yang menimpa ummat saat ini adalah sebuah anugrah yang sedemikian berharga. Namun tentu sadar saja tidak cukup, kesadaran itu harus mampu membuahkan kerja nyata untuk memperbaiki segala macam permasalahan tersebut. Sertakan Allah ta’ala dalam tiap upaya kerja kita, insya Allah dengan demikian kekuatan kita akan semakin berlipat.

Allaahu ta'ala a'lam.

Tangerang, 19.10.2013
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Journey Notes
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top